Dear Kamu,
Calon penghuni baru hati ini…
Aku tak berharap kamu tahu, kalau aku tak pandai mengungkapkan kalimat manis secara langsung.
Aku tak berharap kamu mengerti, jika aku lebih suka memendam penilaianku untukku sendiri.
Aku tak berharap kamu paham, apa yang berkecamuk di benakku kala ku berada dalam keheningan panjang, membiarkanmu menebak mengapa ku bungkam.
Aku tak berharap, kamu menginginkan ku selayaknya aku (begitu) menginginkanmu.
Aku (bahkan) tak (berani) berharap, kamu telah memilihku bahkan sebelum kita bertemu.
Dear Kamu,
Aku tak berharap kamu mendengar, suara tangisku saat aku (terpaksa) mengingat masalalu ku, demi untuk membuatmu lebih mengenalku.
Aku tak berharap, kamu merasa kehilanganku saat aku (dengan sengaja) tak menghubungi mu.
Aku tak (berani) berharap, kamu berbeda.
Dear Kamu,
Bukan maksudku menganggapmu sekedar mempermainkan aku.
Trauma itu, terlalu dalam membekas di hati. Bahkan sampai detik ini belum sempurna mengering.
Dear Kamu,
Kali ini aku ingin membuat pengakuan :)
Sejak hari itu kamu berhasil membuatku terpesona.
Tolong, jangan paksa aku memberimu alasan mengapa,
Karena sejujurnya aku tak mengerti mengapa kamu bisa membiusku.
Oh, ya. I haven’t tell you, that you’re like a mood stabilizer for me.
Mendengar suara mu, sudah cukup menenangkan ku, dan aku tak berharap itu juga berlaku untukmu :’)
Dear Kamu,
Actually, aku sangat sangat sangat penasaran deengan masalalu mu.
Mereka (yang kamu sebut mantan kekasih itu) tak ingin ku ungkit2.
Aku tak berharap kamu tahu, kalau sesungguhnya aku seorang pencemburu :’)
Dear Kamu,
Bukannya aku tak ingin tahu keadaanmu, kegiatanmu,
Tapi sesuatu yang ku sebut pertanyaan ‘emang-gue-siapanya-dia’ selalu berhasil memadamkan keinginan itu.
Membuatmu mengganggapku tak pernah ingin tahu tentang dirimu.
Kamu tahu? Aku tak pernah berharap kamu paham, sesungguhnya aku ingin mendengar semua tentangmu. Bahkan jika memungkinkan, mendokumentasikannya dengan baik di ingatanku yang teramat buruk ini.
Dear Kamu…
Masihkah kamu memberiku kesempatan bertanya?
Apa yang kamu harapkan dari seseorang yang kamu sebut kekasih?
Perhatian seperti apa yang masih belum kuberikan?
Mengapa saat itu kamu muak kepada ku? Apa aku tak memberimu kabar? Apa kabar yang kuberikan melalui pesan facebook itu kurang kamu pahami? Apa mention ku di twitter mu tak terbaca olehmu?
Benarkah kamu takkan meninggalkanku meskipun ‘hal itu’ telah terjadi padaku?
Maaf, aku memang seorang yang introvert.
Aku lebih suka memendam sendiri, semua rasa, ketakutan yang teramat.
Ya, aku egois :’)
*Sebuah surat penuh pengharapan
*teruntuk kamu, M.K
No comments:
Post a Comment