Friday, February 15, 2013

Salah Paham (?)


Suara lo malam ini cukup untuk meruntuhkan tembok pertahanan yang udah susah payah gue bangun. Membuat gue kembali tersadar, betapa gue (masih sangat) menginginkan lo jadi milik gue. Entah apa maksud penjelasan lo itu, penjelasan yang (bagi gue) sudah sangat terlambat. Karena gue sudah terlanjur ilfeel sama dia. Maaf, gue nepatin janji gue (agak sedikit) terlambat nantinya. Yah, karena gue ga tau nomer hp dia, dan gue juga belom pasang paket internet buat android gue.
Suara lo malam ini cukup untuk sekedar mengurangi keinginan gue untuk sekedar memandang lo. Bercengkrama seperti dulu kita baru kenal, tertawa bersama, memperbincangkan hal-hal yang (menurut gue) sangat absurd dan ga penting untuk diperbincangkan. Tapi, entah kenapa bersama lo semua hal absurd itu menjadi momen yang sangat gue rindukan. Setidaknya sampai saat lo ngebaca post ini.
Suara lo malam ini (ternyata) sangat gue rindukan. Obrolan-obrolan absurd itu, pertanyaan-pertanyaan gue yang tidak lo jawab dengan semestinya, dan dua kata yang membuat gue kembali berharap meski takut itu semua cuma mimpi. Perhatian kecil lo yang sudah lama tidak gue dengar. Dan penjelasan lo yang (terlambat itu, yang) membuat gue (lagi-lagi) kembali berharap. Berharap rasa ‘kita’ masih sama. Masih ada ‘kita’ di hati lo. Dan membuat gue berharap, gue lah yang mengisi pikiran lo sekarang, bukan masa lalu lo, bukan juga dia.
Dan…dua kata yang sudah lama ingin gue dengar langsung dari lo, malam ini kembali gue dengar. Gue ga peduli dua kata itu lo ucapkan dari hati, atau cuma sekedar pemanis. Gue ga peduli, sama seperti (dulu) gue ga peduli sewaktu lo bilang bahwa lo belum bisa lepas seutuhnya dari masa lalu lo.
Dan…perhatian sederhana yang sudah lama gue rindukan, gue juga ga peduli itu bener-bener dari hati lo atau cuma sekedar rasa iba.
Dan…gue ga peduli. Malam ini suara lo yang gue dengar itu nyata atau tidak, gue ga akan pernah mau peduli. Karena gue, si bocah bego dan keras kepala. Bocah paling bego dan paling keras kepala yang (mungkin) pernah lo kenal, dan (mungkin juga) pernah lo inginkan.

Gue ga peduli gimana perasaan lo sekarang ke gue. Yang gue peduliin cuma...gue masih sayang pake banget. Sama lo.
Rian W, saya cinta, selalu cinta, dan akan terus cinta sama kamu. Perasaan ini ga bakal ada habisnya :)
Yah, itu gue kutip dari film perahu kertas sih. Setidaknya, sampai saat di mana lo ngebaca postingan ini, cinta gue untuk lo masih ada :)



and this post I dedicate to Mr. Rian Wahyudi :)

Thursday, February 14, 2013

Rindu Ini Mulai Mengiba


Mungkin kalo keadaan diberi kesempatan untuk angkat bicara, ia bakal ngamuk-ngamuk. Karena selalu gue salahkan saat kisah gue berakhir gagal. Bukan cuma kisah gue sama lo, tapi juga sama mereka yang dulu (sangat) gue sayangi.
Sekarang gue ga mau nyalahin siapa-siapa, termasuk keadaan. Udah cukup keadaan jadi kambing hitam di setiap akhir kisah gue. Gue anggap ini peringatan dari Dia, kita belom layak untuk satu sama lain.
Gue udah menata hati gue, merapikan puing-puing hati gue yang lo berantakin sewaktu lo beranjak pergi. Membiarkan gue berteman sepi.
Memang gue terlalu berharap bisa benar-benar pindah, dan menghuni hati lo. Tapi ternyata lo cuma ngizinin gue untuk ‘nginap’ di hati lo. Dan sekarang lo meminta gue pergi. Apa hati lo udah dapet penghuni tetap?
Dan entah kenapa di saat gue memutuskan beranjak dari hidup lo. Lo datang menghubungi gue. Bukan untuk meminta gue tinggal, memang. Tapi cukup untuk membuat gue goyah dan kembali tinggal. Batal beranjak.
Gue akui, gue udah mati rasa untuk cowo lain, bukan untuk lo. Karena rasa gue, hati gue, masih dengan seenaknya nyari keberadaan lo. Sekedar untuk ngasih tau lo, gue ada dan kangen yang gue rasa ini makin mengiba.
Mungkin lo ga mau tau, tapi gue kasih tau aja deh ya. Biar gue juga rada lega. Apapun alasan gue menghubungi lo, sebenarnya cuma bisa-bisanya gue aja. Alasan utamanya cuma satu, selalu sama, GUE KANGEN LO…



And this post I dedicate to Mr. Rian Wahyudi :)