Monday, April 29, 2013

Sebuah Surat yang Tak Ingin Dikirimkan (2)


Dear Kamu,
Calon penghuni baru hati ini…

Aku tak berharap kamu tahu, kalau aku tak pandai mengungkapkan kalimat manis secara langsung.
Aku tak berharap kamu mengerti, jika aku lebih suka memendam penilaianku untukku sendiri.
Aku tak berharap kamu paham, apa yang berkecamuk di benakku kala ku berada dalam keheningan panjang, membiarkanmu menebak mengapa ku bungkam.
Aku tak berharap, kamu menginginkan ku selayaknya aku (begitu) menginginkanmu.
Aku (bahkan) tak (berani) berharap, kamu telah memilihku bahkan sebelum kita bertemu.

Dear Kamu,
Aku tak berharap kamu mendengar, suara tangisku saat aku (terpaksa) mengingat masalalu ku, demi untuk membuatmu lebih mengenalku.
Aku tak berharap, kamu merasa kehilanganku saat aku (dengan sengaja) tak menghubungi mu.
Aku tak (berani) berharap, kamu berbeda.

Dear Kamu,
Bukan maksudku menganggapmu sekedar mempermainkan aku.
Trauma itu, terlalu dalam membekas di hati. Bahkan sampai detik ini belum sempurna mengering.

Dear Kamu,
Kali ini aku ingin membuat pengakuan :)
Sejak hari itu kamu berhasil membuatku terpesona.
Tolong, jangan paksa aku memberimu alasan mengapa,
Karena sejujurnya aku tak mengerti mengapa kamu bisa membiusku.
Oh, ya. I haven’t tell you, that you’re like a mood stabilizer for me.
Mendengar suara mu, sudah cukup menenangkan ku, dan aku tak berharap itu juga berlaku untukmu :’)

Dear Kamu,
Actually, aku sangat sangat sangat penasaran deengan masalalu mu.
Mereka (yang kamu sebut mantan kekasih itu) tak ingin ku ungkit2.
Aku tak berharap kamu tahu, kalau sesungguhnya aku seorang pencemburu :’)

Dear Kamu,
Bukannya aku tak ingin tahu keadaanmu, kegiatanmu,
Tapi sesuatu yang ku sebut pertanyaan ‘emang-gue-siapanya-dia’ selalu berhasil memadamkan keinginan itu.
Membuatmu mengganggapku tak pernah ingin tahu tentang dirimu.
Kamu tahu? Aku tak pernah berharap kamu paham, sesungguhnya aku ingin mendengar semua tentangmu. Bahkan jika memungkinkan, mendokumentasikannya dengan baik di ingatanku yang teramat buruk ini.

Dear Kamu…
Masihkah kamu memberiku kesempatan bertanya?
Apa yang kamu harapkan dari seseorang yang kamu sebut kekasih?
Perhatian seperti apa yang masih belum kuberikan?
Mengapa saat itu kamu muak kepada ku? Apa aku tak memberimu kabar? Apa kabar yang kuberikan melalui pesan facebook itu kurang kamu pahami? Apa mention ku di twitter mu tak terbaca olehmu?
Benarkah kamu takkan meninggalkanku meskipun ‘hal itu’ telah terjadi padaku?

Maaf, aku memang seorang yang introvert.
Aku lebih suka memendam sendiri, semua rasa, ketakutan yang teramat.
Ya, aku egois :’)


*Sebuah surat penuh pengharapan
*teruntuk kamu, M.K

Sunday, April 14, 2013

Hanya Satu Kata Lima Huruf

R.I.N.D.U

Heyy...kita bahkan belum genap 2 minggu kenal. Ya kan? Kenapa lo dengan gampangnya bikin gue ngerasa nyaman di deket lo? Kenapa gue dengan gampangnya jatuh hati sama lo sih? .___.
Lagi-lagi gue ga ngerti sama perasaan sendiri. Suka seenaknya keGRan sama cowok yang bahkan belom 2 minggu gue kenal. Seseorang, mahasiswa jurusan Teknik Mesin di kampus gue. Namanya? Ntar deh gue kasih tau :p. Sekarang gue masih belom berani ngeposting nama si babang. Hehehehe

Dan sekarang si babang lagi liburan di kampung temennya. Sementara itu gue mendam rindu, sendiri. Ngarep si babang juga kangen sama dedeknya di sini #halah

Gue ga sms dia, gue takut dia nganggep gue nyinyir... Yah maklum lah, kemaren gue sempet putus gegara itu kan ya. Eh, babang malah nganggep gue gag perhatian :'(
Salah ga kalo gue ngerasa takut kehilangan, bahkan sebelum gue benar-benar memiliki? Luka itu belum sembuh sempurna. Gue ga mau lagi kehilangan. Udah cukup sakit yang dulu-dulu gue rasa. Lebih dari cukup malah.

Babang...cepet balik ke Padang dong. Dedek kangen :/

Friday, April 5, 2013

Ketika Rindu Datang Berkunjung

"Terkadang rindu datang berkunjung, saat sepi mulai mengungkung.
Masalalu? ia sudah kukubur di belakang rumah. Sejak rindu pergi, dan kenangan mengurung diri.
Hujan datang lagi ke rumahku. Kali ini ia mengajak rindu. Sedang kenangan masih enggan bertemu.
Masihkah rindu berkunjung ke rumahmu? Karena ia mengaku mengunjungi hati yang baru.
"

Belakangan "rindu" jadi topik gue buat ngetweet. Beberapa dari kalimat yang gue ciptakan dari satu kata itu memang apa yang gue rasakan saat itu.
Gue udah bisa nerima kalo si Adit punya pacar baru yang mukanya....mmh...agak sedikit lumayan berantakan yah pokoknya ga bakal bisa nyaingin gue lah. Wajar sih kalo tuh sangkutan sarung mau insecure sama gue :))
Ya kadang emang gitu...Selera gue terhadap cowok sama sekali ga mengalami kelainan meskipun gue patah-hati-nyaris-depresi. Beda banget sama mantan-mantan gue yang gue harap setelah putus dari gue bakal dapet pengganti yang jauh lebih baik, mereka malah nurunin standar mereka. Entah karena apa.
Yang jadi sasaran? Gue lah. Tuh cewek-cewek yang baru dateng di kehidupan para mantan gue jadi insecure amit-amit liat gue. Risiko jadi cewek manis kok gini banget yah.

Ya udah lah. Meskipun gue udah mati rasa, gue masih berbaik hati untuk membuka kesempatan bagi pria-pria yang tertantang menghidupkan hati gue lagi. Good Luck, Boys! :)